Pages

Subscribe:
HEADLINE UPDATE

Minggu, 04 Juni 2017

Laju Persib yang Kembali Terseok

Persib Bandung kembali mengalami kekalahan pada lanjutan Liga 1 Gojek Traveloka pekan ke sembilan saat bertandang ke Stadion Patriot, Bekasi menghadapi tim yang memiliki tingkat disiplin tinggi, Bhayangkara FC.
Persib Bandung tertinggal oleh gol yang diciptakan oleh Paulo Sergio melalui skema cantik hasil assist dari Firtuoso pada menit ke 27. Paulo Sergio, rekan satu tim Cristiano Ronaldo di Sporting Lisbon menceploskan bola pada sentuhan pertamanya tanpa mampu dihalau penjaga gawang Persib, M. Natsir.
Persib sendiri tidak bermain buruk pada pertandingan kali ini walaupun tidak tampil dengan kekuatan utama sejak menit pertama.  Nama-nama besar seperti Michael Essien, Hariyono dan Shohei Matsunaga tidak bermain sejak menit pertama. Hal ini cukup menjadi pertanyaan juga tentang bagaimana pelatih Jajang Nurjaman (Janur) meracik strateginya. Namun nama-nama seperti Kim Kurniawan, Gian Zola, dan rising star Febri Hariadi tetap terlihat bersemangat dalam menggempur pertahanan  tim Bhayangkara yang tampil sangat disiplin dibawah komando Otavio Dutra.
Beberapa kali, Febri tampak kesulitan membongkar pertahanan dan tampak seperti tampil tidak dalam form terbaiknya. Masuknya Essien, Shohei Matsunaga dan Billy Bo tidak terlalu banyak membantu timnya. Hingganya petaka kembali datang di menit 82 dimana mantan pemain timnas U-19, Ilham Udin Armaiyn berhasil membobol kembali gawang M. Natsir setelah menerima umpan terobosan lambung dari pemain pengganti, Jajang Mulyana. Ilham menciptakan gol berkelas dengan hanya sekali kontrol dada dan meluncurkan tembakan keras yang memaksa M.Natsir memungut bola untuk kedua kalinya di pertandingan ini.
Pertandingan sempat terhenti pada menit ke 84 selama 15 menit karena penonton yang diindikasikan suporter Persib masuk ke lapangan. Hal ini membuat pemain Persib sibuk untuk menenangkan para Bobotoh agar tetap tenang.
Setelah kondisi kembali kondusif, wasit kembali melanjutkan pertandingan namun tidak ada gol tercipta hingga peluit akhir ditiupkan. Hasil ini membuat Persib turun ke peringkat 11 dan Bhayangkara FC naik ke posisi 7 klasemen sementara pekan ke 9, Liga 1 Gojek Traveloka.

Read More......

Kamis, 08 November 2012

Spermwhale Muara Gembong dan Pilot Whale Sabu, Whats Next?

Beberapa waktu kemarin, ya'll pasti mengetahui informasi tentang adanya mamalia laut yang terdampar di pantai Indonesia. Dua kasus paling heboh adalah terdamparnya paus di Muara Gembong, Kab. Bekasi dan Sabu, Nusa Tenggara Timur. Sekedar mengingatkan, Paus yang terdampar di Muara Gembong pada 29 Juli 2012 adalah jenis Spermwhale yang menurut para ahli berjenis kelamin jantan. Tipikal Spermwhale jantan dewasa hidup dengan soliter, sehingga hanya ditemukan 1 ekor saja saat itu. Sedangkan fenomena mencengangkan terjadi di Sabu, Nusa Tenggara Timur yaitu terdamparnya jenis Pilot Whale sebanyak 49 ekor.

Fenomena terdamparnya ikan paus di Sabu memang menghebohkan. Bagaimana bisa dalam satu periode terdampar ikan paus sebanyak 49 ekor. Bahkan menurut informasi dari tenaga ahli dari LIPI (Sekar Mira) dalam presentasi penyusunan panduan penanganan mamalia terdampar di Jakarta, 4 ekor diantaranya hamil!!! Lebih lanjut Mira menjelaskan bahwa tim LIPI diturunkan dalam 2 kejadian mamalia terdampar di Muara Gembong dan Sabu untuk mengambil sampel guna mengetahui sebab musababnya. Update terakhir adalah sampel Spermwhale di Muara Gembong sudah diekstrak dan sedang menunggu konfirmasi untuk hasil penelitian. Sedangkan sampel Pilot Whale saat ini sedang dibekukan di freezer dan belum bisa dilakukan uji lebih lanjut karena terkendala satu dan lain halnya. 

Hadir juga pihak dari IMMR (Indonesia Marine Mammals Rescue) yang melakukan evakuasi Spermwhale dari Muara Gembong menuju Pulau Kotok, Kepulauan Seribu, dengan tujuan melakukan Sea Funeral. Ketika ditanyakan alasan utama dilakukan sea funeral, mereka menjelaskan bahwa dengan ukuran spermwhale yang sebesar itu (berat 2,5 ton dengan panjang 15 meter) akan sangat riskan apabila menguburkannya di pinggir pantai. Bakteri-bakteri pengurai berpotensi untuk menginfeksi masyarakat yang berada di sekitar "cemetery"-nya nanti.

Gambar oleh Tanty Surya Thamrin/ Indonesia Marine Mammals Rescue
Fenomena menarik ketika dilakukan survey dan pengamatan sisa bangkai spermwhale pada Sabtu-Minggu, 6-7 Oktober 2012 adalah lebih cepatnya proses dekomposisi terhadap bangkai paus tersebut. Secara teori, dekomposisi fase 1 memerlukan waktu hingga 2 tahun, sedangkan yang terjadi di Pulau Kotok dekomposisi fase 1 hanya berlangsung selama 60 hari saja. Analisa sementara yang dikeluarkan tim survey adalah karena lokasi di dekat pantai sehingga memungkinkan predator alami lebih beragam, dalam kasus ini dijumpai banyaknya biawak yang mem-predasi bangkai paus tersebut selain hiu pastinya. Saat presentasi disebutkan, paus yang ditenggelamkan pada kedalaman 19 meter tersebut saat itu tinggal bersisa kulit dan tulangnya saja. 

Sementara itu, pertemuan yang diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil pada 16 Oktober 2010 di Allson Residence, Senen, Jakarta Pusat bertujuan untuk menyusun panduan dan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan mamalia terdampar. Hadir juga dalam acara tersebut adalah perwakilan dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Indonesia Marine Mammals Rescue (IMMR), perwakilan LIPI, Pak Dharmadi (ahli hiu/ P4KSI), WWF-Indonesia, dan beberapa orang staf dari KP3K. 

WWF Indonesia menyampaikan panduan penanganan paus terdampar yang sudah disusun agar tim penyusun tidak memulai semua dari awal, namun lebih kepada pengembangan dan pembuatan SOP-nya. Selain itu, penyampaian ini juga bertujuan untuk menginformasikan kepada pemerintah dan khalayak umum bahwa WWF Indonesia tidak tinggal diam dalam kasus mamalia laut yang terdampar tetapi berpartisipasi aktif dengan menyusun panduan penanganan mamalia laut yang terdampar.
Berikut link panduan dalam bahasa Indonesia : 
http://www.ziddu.com/download/20832786/panduan_penanganan_mamalia_laut_terdampar_bahasa.pdf.html

Berikut link panduan dalam bahasa Inggris : 
http://www.ziddu.com/download/20832786/panduan_penanganan_mamalia_laut_terdampar_bahasa.pdf.html

Dengan membaca panduan tersebut, khalayak umum bisa mengetahui apa yang dilakukan apabila ada paus yang terdampar di daerahnya termasuk hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.(Achmad Mustofa)

Read More......

Jumat, 10 Agustus 2012

Tradisi, Adat, dan Warisan Turun Temurun Terkait Penangkapan Ikan di Indonesia

Setiap daerah di Indonesia memiliki adat dan kepercayaan sendiri terkait dengan proses penangkapan ikan. Biasanya unik dan memiliki ciri khas sendiri. Keunikan dan kekhasan tersebut yang menjadi identitas dari masing-masing daerah, terutama karena perbedaannya. Perbedaan ciri khas tersebut muncul karena beberapa sebab diantaranya latar belakang agama, adat istiadat, dan warisan turun-temurun dari nenek moyang. 

Agama merupakan salah satu faktor kuat yang men-driven suatu tatanan yang ada di dalam masyarakat. Tuntunan agama meresap hingga ke setiap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Ini merupakan nilai yang menjadi landasan dari norma. Lalu, apa hubungan nilai ini dengan ke-khasan suatu daerah dalam kaitannya dengan penangkapan ikan? Yap, pengaruh agama memiliki peran yang besar dalam tata cara penangkapan ikan di beberapa daerah di Indonesia. Di dalam agama Islam, hari Jumat merupakan hari suci dimana umat muslim terutama pria melaksanakan ibadah sholat Jumat. Oleh karena itulah nelayan dari beberapa daerah di Indonesia memilih libur pada hari Jumat, seperti Berau, Pangandaran dan beberapa daerah lain. Selain libur pada hari Jumat, mereka biasanya juga libur pada permulaan puasa, hari raya Idul Fitri / Idul Adha, dan syawalan. 

Selain agama, faktor yang juga mewarnai tatacara penangkapan ikan di Indonesia adalah adat istiadat. Salah satu adat istiadat yang kental di beberapa daerah adalah larung laut. Larung laut ini merupakan kiriman persembahan kepada penguasa laut agar diberikan hasil ikan yang melimpah dan perlindungan pada saat mereka menangkap ikan. Terlepas dari nilai agama yang menentukan benar atau tidaknya kegiatan ini, larung laut biasa dilaksanakan bertepatan dengan momen-momen tertentu misalnya syawalan. Nelayan di daerah Demak, Jawa tengah, biasanya melakukan ritual ini pada awal bulan syawal. Larung laut juga dilaksanakan di Marunda Kepu, Jakarta Utara, dimana sebuah hiasan miniatur kapal yang berisikan sesajian dengan satu ekor kepala kerbau serta bagian dalamnya,cerutu,telor ayam kampung,bubur merah putih,kembang tuju rupa,serta air yang sudah dicampur darah,dengan membakar kemeyan, merupakan persembahan warga untuk di larung ke tengah laut, sebelumnya sajian yang dilarungkan dibacakan do'a. Selain larung laut, ada juga kebiasaan masyarakat Bajo yang melibatkan pemimpin adat ketika memulai musim tangkap baru yaitu dengan melakukan ritual-ritual di laut. 

 Warisan turun-temurun dari nenek moyang turut membentuk kebiasaan masyarakat dalam menangkap ikan. Hal paling mudah dijumpai adalah adanya mitos mengenai hantu laut, larangan melaut saat menjumpai hiu paus (whale shark), dan larangan menangkap penyu. Mitos hantu laut banyak ditemui di hampir semua wilayah di Indonesia. Di Sibolga pernah dijumpai nelayan yang mengaku menjumpai penampakan hantu laut, akibatnya setelah itu dia sakit. Beberapa tahun kemudian nelayan tersebut sembuh dan kembali melaut setelah di”dukun”kan. Sedangkan kejadian serupa pernah dijumpai di Solor Timur, terutama di desa Watobuku dan Moton Wutun yang menyebutkan penampakan sering dijumpai di sekitar Tanjung Naga, apalagi di daerah tersebut terdapat Pulau Sewanggi. Sewanggi sendiri artinya adalah “setan”. Penampakan yang sering terlihat disana adalah kapal hantu, jenazah palsu, lampu-lampu setan, dan kabut tebal. Larangan melaut apabila menjumpai hiu paus (whale shark) dijumpai pada saat survey shark study di daerah Cirebon dan Muara Baru. Kepercayaan kemunculan whale shark merupakan tanda kesialan dan harus segera berputar arah ke darat, masih kental. Larangan menangkap penyu karena dipercaya akan sakit bagi penangkapnya dijumpai di daerah Banggai Kepulauan. 

Begitu beragam keunikan dan kekhasan adat istiadat masyarakat Indonesia khususnya terkait dengan penangkapan ikan. Konservasionist diuntungkan dengan adanya mitos atau adat istiadat yang menyebutkan secara tidak langsung perlindungan terhadap spesies tertentu (penyu misalnya). Oleh karena adanya kepercayaan tersebut, paling tidak masyarakat akan menghindari untuk menangkap spesies tersebut. (Achmad Mustofa

Sumber : Pengalaman share dan diskusi dengan nelayan di sela-sela penggalian data (http://fotokita.net/cerita/100814034205_7842874/larung-laut-warga-marunda-kepu)

Read More......